Pages

Faktor Terbentuknya Negara Sri Langka

Tuesday, February 25, 2014

Faktor Terbentuknya Negara Sri Langka. Sri Lanka atau nama resminya Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka adalah sebuah negara pulau di pesisir tenggara India. Sampai tahun 1972, negara ini dikenal dengan nama Ceylon, sebutan yang diberikan pada masa kolonialisme Inggris. Pulau ini juga dikenal dengan nama Lanka, Lankadeepa, Simoundou, Taprobane, Serendib dan Selan. Sri Lanka merdeka pada 4 Februari 1948 dan merupakan anggota negara-negara persemakmuran.

Dari sekitar 21 juta penduduk Sri Lanka, 75% adalah Suku Sinhala yang mayoritas beragama Budha. Etnis kedua adalah Tamil, sekitar 18% dan mayoritas beragama Hindu. Secara geografis, konsentrasi etnis Tamil adalah di provinsi Utara (Jaffna) dan Timur (Trincomalee). Sisanya adalah muslim (7%) yaitu etnis Moor yang keturunan Arab dan muslim keturunan Melayu, etnis Burgher yaitu keturunan Eropa (1%) dan Wanniyala Aetto atau Vedda yaitu keturunan penduduk asli Sri Lanka yang saat ini jumlahnya semakin langka.

Bahasa Sinhala dan Tamil merupakan bahasa resmi dan nasional. Sedangkan Bahasa Inggris merupakan bahasa persatuan berdasarkan Konstitusi Sri Lanka. Bahasa Inggris juga merupakan bahasa ibu bagi sekitar 10% populasi Sri Lanka, selain itu juga dituturkan dan dimengerti secara luas. Ketiga bahasa tersebut digunakan bersama-sama dalam pendidikan dan pemerintahan.

Selama hamper tiga dasawarsa Sri Lanka dilanda konflik internal antara pemerintah dan sekelompok etnis Tamil yang menamakan dirinya Macan Tamil (LTTE). Pada awal tahun 2009 Pemerintah Sri Lanka melancarkan perang besar-besaran terhadap Macan Tamil dan akhirnya pada 18 Mei 2009 konflik tersebut berakhir dengan tewasnya pemimpin Macan Tamil. Sebelumnya sempat pada Februari 2002 dengan bantuan mediasi Norwegia, kedua pihak mencapai persetujuan gencatan senjata. Tetapi konflik militer terus meningkat sepanjang tahun 2006 dan kemudian Pemerintah Sri Lanka berhasil merebut kembali wilayah Tricomalee yang sebelumnya dikontrol oleh Macan Tamil. Pada Januari 2008, Pemerintah membatalkan persetujuan gencatan senjata karena situasi terus menegang.

Pada 26 Desember 2004, meskipun terletak sekitar 1600 kilometer dari episentrum di kedalaman Samudera Hindia, Sri Lanka termasuk salah satu negara yang terkena Tsunami. Sebanyak 40 ribu orang meninggal dan 2,5 juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Dengan dukungan berbagai pihak, saat ini rekonstruksi dan rehabilitasi hampir rampung.

Kemerdekaan
Belanda pergi, Inggris datang ke Sri Lanka pada abad ke-19. Di masa kekuasaan Belanda dan Inggris, banyak orang Jawa dan Malaysia yang telah beragama Islam dikirim ke Sri Lanka. Kala itu, Belanda menjajah Indonesia dan Inggris menguasai Malaysia. Kehadiran 'orang-orang buangan' itu dengan sendirinya menjadi gelombang baru kehadiran Muslim di Sri Lanka. Sebagaimana halnya dengan pedagang Arab yang datang jauh sebelumnya, Muslim dari Indonesia dan Malaysia pun banyak yang memilih berdiam dan menetap di negeri ini.

Kebanyakan pendatang Melayu adalah tentara yang dibawa oleh Belanda ke Sri Lanka yang kemudian mengambil keputusan untuk menetap di pulau tersebut. Pendatang lain adalah anggota keluarga bangsawan dari Indonesia yang dibuang ke negeri itu. Populasi keturunan orang Melayu Sri Lanka yang berasal dari Asia Tenggara--Indonesia dan Malaysia--kini diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu orang.

Selain dari Asia Tenggara, gelombang kedatangan warga Muslim ke Sri Lanka juga datang dari India dan Pakistan. Mereka ini adalah orang Islam keturunan yang datang untuk mencari peluang usaha pada masa kolonial di Sri Lanka. Sebagian datang ke negara ini di awal kekuasaan Portugis, lainnya tiba di masa kekuasaan Inggris. Umumnya mereka datang dari negeri-negeri, seperti Tamil Nadu dan Kerala.



Sri Lanka memperoleh kemerdekaannya, lepas dari penjajahan kolonial pada 1948, saat kaum Muslim terbebas dari segala penindasan di seluruh sektor kehidupan, seperti budaya, politik, dan sosial. Di awal kemerdekaan, mayoritas Sinh memegang kekuasan dan menjalankan pemerintahan dengan sistem demokrasi yang menguntungkan kaum Muslim.

Namun, pemerintahan berikutnya mulai melakukan diskriminasi terhadap kaum Muslim dengan membangun permukiman bagi warga Sinh agar mereka tidak menjadi penduduk mayoritas. Tahap demi tahap pemerintah mengurangi jumlah sekolah-sekolah bagi kaum Muslimin, melarang mereka belajar di universitas, serta menghancurkan sendi-sendi perekonomian mereka.

Kondisi ini berlangsung sampai musibah besar menimpa negeri ini, seiring dengan terjadinya peperangan antara etnis Tamil dan Sinh pada 1983. Etnis Tamil menuntut kemerdekaan dengan mendirikan sebuah negara di sebelah selatan dan timur Sri Lanka. Tuntutan ini menggiring mereka pada pertikaian bersenjata dengan Pemerintah Sri Lanka yang menelan ribuan korban jiwa.

Pertikaian antaretnis itu tidak menguntungkan posisi warga Muslim. Di tengah pertikaian itu, banyak warga Muslim yang terpaksa mengungsi. Kehidupan mereka di pengungsian, jauh dari kondisi yang harmonis. Banyak di antara mereka yang tinggal di perkemahan dengan kebutuhan hidup minimal, sulit mendapatkan pekerjaan yang memadai untuk mengatasi kesulitan ekonomi mereka. Kesempatan bagi anak-anak mereka yang tinggal di pengungsian untuk mendapatkan pendidikan, apa boleh buat, menjadi terbatas.

No comments:

Post a Comment

 

Most Reading